Friday, 30 December 2016

Antara Sholat dan Tidur


Assalamu'alaikum saudaraku-saudariku seiman, sering kali kita lalai dalam hal ini ( sholat ) sewaktu subhuh atau pun waktu sholat lain nya, kita keasyikan tidur nyenyak dikasur yang empuk, bagi muda sambil menggunakan handsad di telinganya bagi yang bersuami dan istri bermesraan dengan pasangan nya, sehingga kita sering lalai dengan sholat kita, padahal tujuan kita hidup di dunia ini hanyalah beramal sebanyak-banyaknya.

Firman Allah surah Al-Mulk ayat 2 telah Allah jelaskan dengan sejelas-jelas nya, bahwa Allah menjadikan hidup dan mati itu supaya Allah menguji kita hamba-Nya siapa yang lebih baik amalan nya, namun kita lalai ditipu oleh kenikmatan yang sementara di dunia ini.

Saudaraku-saudariku jangan karena kesenangan sementara kita lalai dengan urusan akhirat kita, ingatlah selalu bahwa ajal akan datang tepat pada saat yang sudah Allah tetapkan, tidak bisa dimajukan juga tidak bisa di diundurkan.

Saudara-saudariku alangkah ruginya kita mengabaikan perintah Allah SWT yang jelas-jelas keuntungan kepada kita, saudaraku Allah di puji atau tidak Dia selalu Maha Agung, di sembah atau tidak Dia tetaplah Tuhan, maka tidak kah kau ingin menjadi Hamba yang bersyukur?
Semoga kita semua termasuk golongan hamba yang bersyukur, Amin.

Terimakasih.
Wassalamualaikum wr.wb

Tuesday, 13 December 2016

Singkil
By: Jaminuddin Djalal

Oh Singkilku
Negeriku yang malang
Tanah yang dulunya subur
Kini telah menjadi air
Tanpa sisa kau ditenggelamkan nya
Sehingga semakin rapuhnya dirimu
Sakit yang kau rasa
Ku kira penderitaanmu telah berlalu
Tapi ternyata semakin derita yang kau rasa
Buaya menelanmu dengan lahapnya
Konflik membakar sekujur tubuhmu
Sudah berlalu
Oh tidak, setelah sembuh lukamu kembali membengkak

Sampai detik ini kaupun masih dibawa hanyut genangan air

Sunday, 11 December 2016

NGOPI - Ngobrol Perkara Iman



Assalamu'alaikum wr.wb.

Saudaraku, ini bukan NGOPI biasa, bukan menikmati secangkir kopi hitam, tapi NGOPI kali ini menikmati Syurga, Insya Allah.

A. Iman

Saudaraku, mari senantiasa meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT, Iman kepada Malaikat, Kitab, Rasul, dan Hari kiamat.

Makna iman adalah Cahaya Allah yang memancar di hati seseorang yang
dikehendaki Allah bersih dari segala sesuatu yang tidak disukai-Nya.

1. QS. Al-Baqarah ( 2 ) : Ayat 257


اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya; "Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari
kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)". ( Qs. Al-Baqarah: 257 ).

2. QS. Al-Maidah ( 5 ) : Ayat 16

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya; "Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya". ( Qs. Al-Maidah: 16 ).

3. QS. An-Nur ( 24 ) : Ayat 40

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

Artinya; "Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia
mempunyai cahaya sedikitpun". ( Qs. An-Nur: 40 ).


4. QS. Az-Zumar ( 39 ) : Ayat 22

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ

Artinya; "Orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama islam lalu ia
mendapat cahaya dari Rabbnya". ( Qs. Az-Zumar: 22 ).

B. Kenikmatan-kenikmatan Iman

Saudaraku, sesungguhnya iman itu sangat nikmat, mengalahkan apa-apa saja yang nikmat di muka bumi ini.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Artinya; “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya” .(Qs. Ibrahim: 34).

Saudaraku, sesungguhnya hidup saja di muka bumi ini itu sudah cukup kenikmatan yang diberikan oleh Allah, apalagi di tambah di akhirat nanti, sungguh Allah itu maha pemberi kenikmatan, bila dibandingkan amal-amal kita yang begitu sedikit, rasanya kita tak pantas untuk menerima nikmat Allah SWT di dunia ini, tapi karena Rahman dan Rahim-Nya, sehingga kita masih diberi-Nya kesempatan memperbaiki diri yang berlumur dosa ini. Saudaraku dari itu mari memperbaiki diri sebelum ajal menjemput. semoga kelak kita dimasukkan ke dalam Syurga-Nya yang kekal. Amin Ya Rabbal'alamin.

Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat.
Akhir kata ayo sering-sering NGOPI, bukan kopi hitam, tapi Ngobrol perkara iman, agar semakin kuatnya keimanan kita.

Wassalam.


Saturday, 10 December 2016

Dunia Sementara Akhirat Selamanya ( DSAS )


Assalamu'alaikum wr...wb.
Saudaraku semoga kita senantiasa dirahmati oleh Allah SWT, diberikan Hidayah, kemudian dimatikan kita dalam keadaan Khusnul Khotimah, Amin. Saudaraku sesungguhnya dunia ini hanya sementara, dan akhirat selamanya. maka perbanyaklah bekal mu, bekal ku, bekal kita semua, untuk dikemudian waktu bertemu di hadapan Allah SWT.
Dalam Surah Al-Hadit Ayat 20-21 Allah SWT menjelaskan tentang hakikat kehidupan di dunia ini, berikut gambarnya.
Al Hadit 20Al Hadit 21

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa kehidupan di dunia ini tidak lain dan tidak bukan melainkan hanya sebatas senda gurau semata:

Allah SWT berfirman;

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Surah Al-An'Am ayat 32)

Allah Subhanahuwata'ala berfirman;

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Surah Al-Ankabut ayat 64).

Allah Subhanahuwata'ala berfirman;

"Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu." (Surah Muhammad ayat 36)

Saudaraku apabila kalian merasakan kesukaran dan menghadapi begitu banyak masalah hidup di dunia fana ini, janganlah berputus asa sesungguhnya Allah SWT adalah tempat bergantung. Berdoalah bersungguh-sungguh kepada-Nya, niscaya Ia akan mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya, dekatilah Ia, Niscaya Ia akan mendekat kepadamu.

Sabda Rasulullah Sallallahu ’Alaih Wasallam;

“Doa orang yang sedang menderita (kesedihan yang mendalam) ialah: "Ya Allah, RahmatMu aku harapkan, janganlah Engkau serahkan segala urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR Abu Dawud).

Akhir kata, Dunia Sementara Akhirat Selamanya ( DSAS )

Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa



Assalamu'alaikum wr...wb.

Saudaraku tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dunia ini melainkan atas izin Allah Subhanahu Wata'ala. Jika Allah Subhanu Wata'ala sudah berkehendak atas sesuatu maka ketahuilah saudaraku tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya, kamu, aku, maupun orang yang terkuat dijagat raya ini tak akan mampu melawan kehendak-Nya, tak ada yang bisa menghalangi-Nya. Alam dan kejadian yang ada dijagat bumi dan langit ini, yang nyata maupun yang ghab semua atas kehendak Allah. Bahkan sehelai daun yang jatuh ke permukaan tanah pun semua atas izin Allah SWT, Azzawajalla.

Saudaraku di siang dan malam yang sering kita keluhkan kenapa cepat maupun lambat, terdapat kekuasaan Allah Azzawajalla. Didalam turunnya hujan yang sering kita permasalahkan akan turunnya, kala kita sedang hendak berpergian namun hujan menghalang, semua itu atas kekuasaan Allah SWT. Begitu juga dengan angin yang berhembus kencang yang sering kita cela karena dapat menyebabkan kita sakit, juga terdapat kekuasaan Allah SWT.


Allah SWT Berfirman:

وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ
بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

"Dan pada pergantian malam dan siang, dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal."(QS. Al-Jaasiyah : 5)

Saudaraku terhadap kehendak Allah SWT, terimakanlah dengan berlapang dada, ikhlas Lillahita'ala. Terhadap kekuasaan Allah, tinggalkanlah keraguan yang ada dihatimu dan tambahkanlah keyakinanmu. Karena sesungguhnya setiap kehendak dan kekuasaan Allah yang Ia takdirkan untuk hamba-Nya itu adalah hal yang terbaik diantara yang terbaik. Karena sebenarnya di semua kehendak dan kekuasaan Allah yang ada di bumi ini terdapat pelajaran bagi kita makhluk yang berakal.

Itulah Allah yang Maha Kuasa, yang mengatur isi langit dan bumi ini, Segala yang ada dan tercipta di dunia ini, segala yang terjadi di bumi ini, baik hal yang kecil maupun hal yang besar, baik hal yang sering kita remehkan maupun hal yang kita luar biasakan, baik hal yang luput dari penglihatan kita maupun terlihat, semuanya merupakan bentuk kekuasaan Allah. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Besar Allah dengan segala Firman-Nya.


".Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. Al-Maidah : 17)


Demikianlah Tulisan ini, Semoga bermanfaat untuk kita semua, khususnya penulis sendiri, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, sujud dan rukuk bersama orang-orang yang rukuk, mati dalam keadaan khusnul khotimah. Amin Ya Rabbal'alamin.

Akhir kata Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa ( AKMTK )

Wassalamu'alaikum wr...wb.

Tuesday, 15 November 2016

KUMPULAN AYAT AL-QURAN DAN HADITS TENTANG PENTINGNYA MENJAGA LISAN


Assalamu'alaikum Wr, Wb
Saudaraku seiman dan seagama dibawah ini ada beberapa Firman Allah SWT dan Hadits Nabi mengenai Berbicara Sopan, Menjaga Lisan agar orang tidak sakit Hati.
Silahkan di baca untuk memperdalam ilmu agama
Selamat Membaca
Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]
Dalam ayat lain disebutkan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]
Allah juga berfirman.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]
Begitu juga firman Allah Ta’ala.
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Dala kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَأكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ اَفَرَاَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنَّ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدِاغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَهُ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”
Allah Azza wa Jalla berfirman.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [1]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكُ ذَلِكَ لاَمَحَااَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِيْنَا هُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِيْنَا هُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِيْنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِيْنِاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِيْنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوِى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّ بُهُ
“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya” [2]
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64 dengan lafaz.
إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.
Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.
Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadits tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang terjadi sekarang dan juga yang akan terjadi saat mendatang. Berbeda dengan tangan. Pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan”.
Oleh karena itu, dalam sebuah sya’ir disebutkan :
Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya
Tanganku kan lenyap, namun tulisan tangannku kan abadi
Bila tanganku menulis kebaikan, kan diganjar setimpal
Jika tanganku menulis kejelekan, tinggal menunggu balasan.
“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau – kalau tidak dapat berkata yang baik, hendaklah ia berdiam diri saja” (Muttafaq ‘alaih, Kebanyakan Ulama Hadits)
“Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikannya apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya – yakni mulut atau lidah – serta antara kedua kakinya – yakni kemaluannya, maka saya memberikan jaminan syurga untuknya” (Muttafaq ‘alaih)
“Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan – baik atau buruknya -, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat” (Muttafaq ‘alaih)
Hadits Menjaga Lidah (Lisan) Hasan Shohih
“Sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dengan suatu perkataan dari apa-apa yang diridhoi oleh Alloh Ta’ala, ia tidak mengira bahwa perkataan itu akan mencapai suatu tingkat yang dapat dicapainya, lalu Alloh mencatat untuknya bahwa ia akan memperoleh keridhoan-Nya sampai pada hari ia menemui-Nya -yakni hari kematiannya atau pada hari kiamat nanti. Dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dengan suatu perkataan dari apa-apa yang menjadikan kemurkaan Alloh, ia tidak mengira bahwa perkataan itu akan mencapai suatu tingkat yang dapat dicapainya, lalu Alloh mencatatkan untuknya bahwa ia akan memperoleh kemurkaan-Nya sampai pada hari ia menemui-Nya” (Diriwayatkan oleh Malik dalam kitab Al-Muwaththa’ dan juga oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadits hasan shohih)
“Janganlah engkau semua memperbanyak kata, selain untuk berzikir kepada Alloh Ta’ala, sebab sesungguhnya banyaknya pembicaraan kerasnya hati dan sesungguhnya sejauh – jauh manusia dari Alloh ialah yang berhati keras”, yakni enggan menerima petunjuk baik. (Hadits Riwayat Tirmidzi)
“Ketika saya dimi’rajkan, saya berjalan melalui suatu kaum yang mempunyai kuku-kuku dari tembaga yang dengan kuku-kuku tadi mereka menggaruk-garukkan muka serta dada-dada mereka sendiri. Saya bertanya: “Siapakah mereka itu, hai Jibril?” Jibril menjawab: “Itulah orang-orang yang makan daging sesama manusia -yakni mengumpat – dan menjatuhkan kehormatan mereka” (Hadits Riwayat Abu Dawud)

“Setiap Muslim atas sesama Muslim itu haramlah darahnya, kehormatannya serta hartanya – yakni haram dilanggar” (Hadits Riwayat Muslim)
Hadits Pentingnya Menjaga Lidah (Lisan)


Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah bersabda.
مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”
Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.
Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”
Imam Nawawi berkomentar tentang hadits ini ketika menjelaskan hadits-hadits Arba’in. Beliau menjelaskan, “Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara”. Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara”.
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.
Beliau berkata pula di hal. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.
Beliau menambahkan di hal. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Muhammad saw. bersabda:Dari Sahl bin Sa’ad ra., Rosululloh Muhammad saw bersabda: Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia mendengar Rosululloh Muhammad saw bersabda: Dari Abu Abdur Rahman yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani ra. bahwasannya Rosululloh Muhammad saw bersabda: Dari Ibnu Umar ra., katanya: “Rosululloh Muhammad saw. bersabda: Dari Anas ra., katanya: “Rosululloh Muhammad saw. bersabda: Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rosululloh Muhammad saw bersabda:
Mu’adz bin Jabal radhiyallohu ‘anhu berkata: Saya pernah bersama Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Pada suatu pagi ketika kami sedang berjalan, aku berada didekat beliau, maka aku berkata :”Wahai Rosululloh kabarkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam Surga dan menjauhkan aku dari Neraka”
Maka beliau bersabda: “Sungguh engkau telah bertanya kepadaku tentang perkara yang begitu besar akan tetapi akan terasa mudah bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Alloh, engkau beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, engkau mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa dibulan Rmadhan dan melaksanakan ibadah haji” (Rukun Islam)
Kemudian beliau Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasalam bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan?”
Saya katakan: “Tentu wahai Rosululloh”
“Berpuasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan dosa-dosa sebagaimana air dapat memadamkan api, demikian juga sholat seseorang ditengah malam, kemudian beliau membacakan ayat, ‘…lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka…’ hingga ‘…apa yang telah mereka kerjakan'” (QS. As-Sajdah ; 17)
Kemudian beliau bersabda: “Maukah aku tunjukkan
Saya katakan: “Tentu wahai Rasul Allah”
Maka beliau bersabda: “Urusan terpenting adalah Islam, tiang penopangnya adalah sholat sedangkan puncak tertingginya (atapnya) adalah jihad”
Kemudian lanjutnya: “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kunci semua itu?”
Saya menjawab: “Tentu wahai Rasulullah”
Maka beliau memegang lidahnya, lalu bersabda: “Jagalah olehmu ini!”
Aku bertanya: “Wahai Nabi Alloh, apakah kami akan disiksa dengan sebab perkataan yang kami ucapkan?”
Beliau menjawab: “Ibumu kehilangan kamu ya Mu’adz, bukankah orang-orang itu tersungkur di Neraka diatas wajah-wajah mereka atau diatas hidung-hidung mereka, tidak lain disebabkan oleh ulah lisan-lisan mereka?” (Hadits Riwayat Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Hadits Hasan Shohih dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’)
SEMOGA BERMANFAAT
LEBIH DAN KURANG ADMIND MOHON MAAF
WASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Allah SWT menutup Aib Hamba-Nya



Assalamualaikum Wr Wb Akhy dan Ukhty
Saudaraku, sesungguhnya Allah senantiasa menutupi aib yang ada pada diri kita, maka janganlah sekali-kali kita sibuk mengorek aib orang lain padahal aib diri sendiri yang begitu banyaknya telah Allah tutupi.
Termasuk kesalahan besar juga adalah seseorang yang menampakkan aib dirinya sendiri dengan maksud agar tidak disebut munafik. Ia membongkar sendiri aib dan maksiat yang ia lakukan padahal Allah telah merahasiakannya.
Ada sebuah kisah bahwa pada zaman Nabi Musa AS, Bani Israil ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi Musa AS.
Lalu mereka kalangan Bani Israil itu berkata “Wahai Musa, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami” pinta bani israil, Lalu berangkatlah Nabi Musa AS menuju padang pasir yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang dari kaumnya. Mulailah mereka berdoa dengan kondisi yang lusuh penuh debu, haus dan lapar.
Lalu Musa Alaihissalam berdoa, “Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rahmat-Mu, kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua yang rukuk dan sujud.”
Namun sungguh aneh, tetap saja langit terang benderang, matahari justru bersinar makin kemilau. Kemudian Musa berdoa lagi, “Wahai Tuhanku berilah kami hujan!”
Namun do'a Nabi Musa AS belum juga dikabulkan oleh Allah SWT
Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian!”
Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah selama 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun.”
Seorang pria melirik ke kanan dan kiri, melihat tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia, saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud sebagai hamba yang telah bermaksiat selama 40 tahun tersebut. Ia pun merasa malu, takut, dan gelisah.
Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”
Maka pria itu menundukkan kepalanya karena malu dan menyesal, air matanya pun menetes, ia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku!” pintanya dalam hati yang penuh kesungguhan dan pengharapan.
dari itu tidak lama kemudian awan-awan tebal pun bergumpal di atas langit, semakin tebal menghitam lalu turunlah hujan.
Nabi Musa keheranan dan berkata, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, padahal tak seorang pun yang keluar di depan manusia.”
Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan disebabkan seorang hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun telah bertaubat atas dosa-dosanya.”
Musa berkata, “Ya Allah, Tunjukkan padaku hamba yang telah bertaubat itu.”
Allah berfirman, “Wahai Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun, apakah Aku membuka akan aibnya sedangkan ia telah bertaubat kepada-Ku?!”
Maasya Allah, Saudaraku Sungguh luar biasa cara Allah menutupi aib hambaNya, Aibmu dan Aibku,  Demikian pula Allah selalu merahasiakan aib kita sehingga orang-orang yang berada di sekitar hanya mengetahui hal-hal baik tentang kita dan tak mengetahui maksiat yang sembunyi-sembunyi kita perbuat.
Saudaraku, inginkah aib kita terus-menerus dirahasiakan oleh Allah bahkan hingga di akhirat kelak? Ada satu cara yang sudah pasti manjur. Yakni tutupilah aib sesama muslim!
Rasulullah SAW bersabda
“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya walau ia di dalam rumahnya.” (H.R. Ibnu Majah)
“Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka, maka barang siapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya dan siapa yang diintip Allah akan aibnya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya.” (HR. at-Tirmidzi)
Dari itu saudaraku, mari kita selalu menutupi aib  sesama saudara seiman, mudah-mudahan Allah pun menyembunyikan aib dan maksiat yang sering kita lakukan selama ini.
Demikian saja postingan ini, lebih dan kurang admind Mohon Maaf, Terimakasih.
Wassalamualaikum Wr Wb